PT.INJAKAYU TERPADU

Info Seputar Injakayu Terpadu

Head Office : Jln Wijaya 1/51 Kebayoran Baru-Jakarta 12170, Indonesia
Factory : Jl. Raya Tlajung Udik No.100 16962
Gunung Putri-Bogor - Indonesia Hotline: +6221- 86860808 / +6221-8671809

Structural characteristics

A typical plywood panel has face veneers of a higher grade than the core veneers. The principal function of the core layers is to increase the separation between the outer layers where the bending stresses are highest, thus increasing the panel's resistance to bending. As a result, thicker panels can span greater distances under the same loads. In bending, the maximum stress occurs in the outermost layers, one in tension, the other in compression. Bending stress decreases from the maximum at the face layers to nearly zero at the central layer. Shear stress is consistent throughout the depth of the pane

Types

Different varieties of plywood exist for different applications

Softwood plywood

Softwood panel is usually made either of cedar, Douglas fir or spruce, pine, and fir (collectively known as spruce-pine-fir or SPF) or redwood and is typically used for construction and industrial purposes.[1]

The most common dimension is 1.2 m × 2.4 m or the slightly larger imperial dimension of 4 feet × 8 feet. Plies vary in thickness from 1.4mm to 4.3mm. The amount of plies depends on the thickness and grade of the sheet but at least 3. Roofing can use the thinner 5/8" (15mm) plywood. Subfloors are at least 3/4" (18mm) thick, the thickness depending on the distance between floor joists. Plywood for flooring applications is often tongue and groove; This prevents one board from moving up or down relative to its neighbor, so providing a solid feeling floor when the joints do not lie over joists. T&G plywood is usually found in the 1/2" to 1" (12-21mm) range

Hardwood plywood

Used for demanding end uses. Birch plywood is characterized by its excellent strength, stiffness and resistance to creep. It has a high planar shear strength and impact resistance, which make it especially suitable for heavy-duty floor and wall structures. Oriented plywood construction has a high wheel-carrying capacity. Birch plywood has excellent surface hardness, and damage- and wear-resistance

Tropical plywood

Tropical plywood is always made of mixed species of tropical wood in the Asian region. Tropical plywood is superior to softwood plywood due to its density, strength, evenness of layers, and high quality. It is usually sold at a premium in many markets if manufactured with high standards. Tropical plywood is widely used in the UK, Japan, Taiwan, Korea, Dubai, and other countries worldwide. It is the most preferred choice for construction purposes in many regions

Special-purpose plywood

Certain plywoods do not have alternating plies. These are designed for specific purposes.

Aircraft plywood

High-strength plywood, known as aircraft plywood, is made from mahogany and/or birch, and uses adhesives with increased resistance to heat and humidity. It was used for several World War II fighter aircraft, including the British-built Mosquito bomber, which was nicknamed "The Wooden Wonder".

Structural aircraft-grade plywood is more commonly manufactured from African mahogany or American birch veneers that are bonded together in a hot press over hardwood cores of basswood or poplar. Basswood is another type of aviation-grade plywood that is lighter and more flexible than mahogany and birch plywood but has slightly less[citation needed] structural strength. All aviation-grade plywood is manufactured to specifications outlined in MIL-P-607, which calls for shear testing after immersion in boiling water for three hours to verify the adhesive qualities between the plies and meets specifications.

Sumber :Wikipedia


Mengapa Harus Ada Quality Control?

Pada jenis produksi barang apapun dari pembuatan furniture, tekstil, elektronik bahkan pabrik makanan peran sebuah team quality controller sangat penting sekali. Para pekerja di dalam sebuah line produksi memiliki tugas utama untuk menjalankan proses seperti yang sudah direncanakan. mereka memilik target dan perhatian utama terhadap efisiensi bahan baku, kuantitas, dan kecepatan produksi. Pada waktu para pekerja berkonsentrasi untuk mendapatkan target tersebut sebagai prioritas utama, kualitas barang sering kali tidak diperhatikan.

Di sinilah peran para QC dibutuhkan. Mereka yang akan selalu memberikan petunjuk dan peringatan terhadap team produksi untuk selalu menjaga kualitas sesuai dengan yang diinginkan oleh pembeli. Dalam situasi ini akan tercipta sebuah konflik di antara produksi dan QC. Satu pihak menjadikan kapasitas produksi sebagai prioritas utama, di pihak yang lain ingin menjaga kualitas pada satu level tertentu dan tidak menguatirkan tentang kecepatan.

Ini sebuah konflik yang baik karena ketika konflik itu terjadi akan ada suatu kerjasama dari kedua belah pihak untuk menjaga prioritas masing-masing. Di dalam beberapa pabrik yang saya pernah kunjungi masih menempatkan team QC di bawah manajemen produksi dan tentunya ini berpotensi menjadi masalah bagi pabrik. Lebih sedikit konflik karena keputusan QC akan dikesampingkan oleh kepala produksi dan potensi terjadi 'claim' dari pembeli karena kualitas yang tidak terkontrol baik.

Struktur organisasi yang paling ideal adalah menempatkan team Quality Control secara independen tanpa ada tekanan dari pihak manapun kecuali standard kualitas yang telah ditetapkan bersama di dalam suatu pabrik. Dan sebaiknya hanya ada satu pimpinan yang akan mengakomodasi konflik tersebut.

Prosedur QC

Beberapa rekomendasi di bawah ini mungkin tidak semuanya bisa diterapkan secara langsung dengan mempertimbangkan jenis barang dan sifat konsumen. Kami berusaha agar prosedur ini secara umum bisa mewakili seluruh kegiatan QC di lapangan terutama QC untuk inspeksi sebelum pengiriman.
Artikel ini khusus diperuntukkan bagi anda yang bekerja sebagai QC atau mempersiapkan buku manual untuk QC.

  1. Pastikan bahwa anda sudah memiliki dokumentasi lengkap tentang produk yang akan diinspek. Dokumen tersebut harus meliputi paling tidak spesifikasi produk, order quantity, dan aturan dasar inspeksi.
  2. Peralatan QC harus tersedia dan bekerja dengan baik misalnya meteran/kaliper, MC meter, obeng atau allen key (jika perlu), contoh warna dan lainnya.
  3. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan secara global dahulu berawal dari packing dan jumlah barang yang tersedia apakah telah mencukupi kebutuhan. Ini penting untuk dimasukkan ke dalam laporan inspeksi.
  4. Pemeriksaan tentang kualitas penggunaan material utama pada perabot. Misalnya material utama adalah MDF, periksa apakah benar bahwa bahan yang dipakai adalah MDF? Bukan material yang lain?. Atau apabila material utamanya adalah kayu solid, periksa apakah jenis kayu yang digunakan sesuai dengan spesifikasi.
  5. Kualitas pengerjaan sebagai bagian lain yang harus diperiksa. Cek kualitas pengerjaan mesin dan perakitannya, dan periksa pula kualitas penyetelan pintu dan laci (bila ada).
  6. Periksa kualitas dan jenis finishing yang digunakan. Pastikan bahwa finishing sesuai dengan spek dan kualitasnya sesuai dengan standar yang telah disepakati bersama terutama warna finishing.
  7. Hardware atau perlengkapan perabot menjadi bagian selanjutnya untuk diperiksa. Pemeriksaan meliputi kualitas hardware, pemasangan pada perabot dan jumlah perlengkapan.
  8. Bagian akhir untuk pemeriksaan yang tidak kalah penting adalah dengan cara menggunakan produk yang sedang diinspek sesuai dengan fungsinya. Misalnya kursi, cobalah dengan duduk pada kursi tersebut. Dan apabila anda sedang inspek laci, cobalah membuka laci tersebut selama beberapa kali untuk mendapatkan gambaran tentang apa yang akan didapati oleh konsumen pada waktu membeli barang tersebut.

Terlepas dari semua proses tersebut di atas, akan penting sekali apabila saat anda melakukan perakitan (untuk produk knock down) dengan dibantu oleh orang lain yang tidak mengerti sama sekali tentang teknis. Hal ini akan sangat baik untuk mengetahui apakah produk anda memang layak untuk dipasarkan. Di luar sana banyak orang yang tidak mengerti teknis tetapi harus melakukan perakitan furniture yang telah mereka beli. Di Indonesia rutinitas yang ada biasanya akan menyuruh orang khusus yang mengerti untuk membantu merakit produk tersebut.
Tapi apabila anda memproduksi produk ekspor? Apakah mereka akan memiliki orang khusus seperti itu? Jawabannya adalah 'Ya' tapi ongkos untuk itu bisa jadi lebih mahal daripada harga produk anda....

Kelemahan QC

Anda pernah mendengar pertanyaan apakah QC memiliki kelemahan? Dalam arti pada proses produksi apakah dengan adanya QC berarti kualitas produk dijamin 100% akan sesuai dengan standar?
Siapapun yang terlibat di dalam pabrik furniture baik dari departemen perencanaan, persiapan bahan, produksi mesin, finishing hingga packaging tidak akan ada yang bisa menjamin bahwa produk yang dihasilkan akan 100% berkualitas baik. Didasari dengan sifat alami bahwa tidak ada yang sempurna, maka cacat produksi akan selalu timbul.

Itulah sebabnya setiap perusahaan selalu mengalokasikan biaya tersebut di dalam perhitungan biaya produksi maupun harga jual yang mana nilai prosentasenya akan berbeda-beda.

Kembali kepada keberadaan QC di dalam produksi, mereka tidak bertugas untuk membuat hasil produksi menjadi sempurna akan tetapi berfungsi untuk menekan tingginya volume produk dengan kualitas rendah. Misalkan dengan tidak adanya team QC di dalam produksi anda, terdapat barang yang berkualitas rendah sebanyak 50 unit dari total produksi 300 unit. Dalam hal ini QC berfungsi sebagai 'saringan' dan sistem kontrol untuk mengurangi angka 50 unit menjadi (jika memungkinkan) 0 unit.

Yang berperan utama dalam menciptakan kualitas produk yang baik sebenarnya adalah team produksi di dalamnya. Jika mereka terlatih dan memiliki skill yang baik dalam teknis pengerjaan kayu, maka produk yang akan dihasilkan juga berkualitas baik.

QC bertugas sebagaimana layaknya rambu-rambu lalu lintas dan polisi di jalan raya.
Mereka harus mengontrol produk agar tetap pada arah yang benar dan di sinilah tuntutan kerja sebagai QC untuk menjadi tegas dan disiplin.

Beberapa hal yang bisa mempengaruhi kualitas kerja QC:

1. Intervensi jadwal pengiriman dari marketing/produksi.
Jika team QC sudah terpengaruh dengan tekanan pihak logistik untuk memikirkan tentang jadwal pengiriman, maka kekuatan QC akan menjadi lebih lemah dan timbul beberapa toleransi kualitas yang berpotensi mengakibatkan penurunan kualitas produk.

2. Pengetahuan tentang standar kualitas
Mengetahui dengan jelas standar kualitas sangat penting bagi QC sehingga mereka tahu persis di mana letak kesalahan atau batas persyaratan kualitas yang harus dicapai. Akan lebih baik apabila seorang QC bisa memberikan jalan keluar pemecahan masalah teknis.

3. Disiplin
QC harus kuat menempatkan dirinya pada arah pekerjaan yang sama dan tidak berubah-ubah. Dalam arti toleransi kualitas yang diterapkan pada produksi memang perlu pada beberapa langkah pengerjaan dengan pertimbangan dari berbagai aspek, akan tetapi harus tetap berada pada jalur yang kuat. Akan berbahaya bagi kualitas produk apabila QC memiliki toleransi yang terlalu besar dan tidak didasarkan pada alasan teknis yang kuat.

4. Pertimbangan biaya
Kualitas berada pada prioritas utama bagi QC, walaupun pada prakteknya untuk mendapatkan kualitas baik dan sesuai standar akan menimbulkan aspek biaya, QC tidak boleh terpengaruh oleh pertimbangan tersebut.

Tugas QC secara umum
Memastikan bahwa semua produk yang dihasilkan pabrik memenuhi persyaratan kualitas dan sesuai dengan standar yang telah ditentukan.
Membuat tindakan pencegahan di dalam proses produksi dalam tujuannya untuk mencapai kualitas produk terbaik dengan cara mengikuti hampir setiap langkah pengerjaan dengan hati-hati.
Memberikan laporan atau peringatan kepada manager terkait dalam hubungannya apabila terjadi masalah kualitas yang bisa mempengaruhi perubahan jadwal dan biaya tambahan yang diakibatkan dari masalah kualitas tersebut.
Memberikan penjelasan yang detail dan baik di dalam produksi tentang kualitas seperti apa yang bisa diterima ataupun yang ditolak.

Wewenang QC secara Umum
Memiliki akses secara keseluruhan di setiap langkah produksi yang memiliki potensi dan andil dalam menentukan kualitas akhir suatu produk.
Melakukan tindakan penolakan dan selanjutnya pemberhentian proses produksi apabila dirasa kualitas produksi beresiko besar terhadap hasil keseluruhan.
Menerima atau menolak pengiriman barang dengan berdasarkan pemeriksaan berkala.

Tanggung Jawab QC secara umum
Menjaga kestabilan kualitas produk dari awal hingga akhir proses.
Meningkatkan senantiasa efisiensi pengawasan kualitas agar mampu membantu mengurangi resiko keterlambatan jadwal pengiriman maupun resiko biaya.
Seluruh produk yang dikeluarkan oleh pabrik/industri telah memnuhi standar kualitas teknis maupun keselamatan pengguna.

apa itu veneer ?

Veneer adalah lembaran kayu tipis yang dihasilkan dari irisan, kupasan dan serutan gelondongan kayu / Logs (balok). Dengan tehnologi khusus, gelondongan kayu diiris / diserut memanjang atau dikupas secara melingkar sehingga menghasilkan lembaran kayu setipis 0.25 mm s/d 0.75 mm. Cara pengirisan Veneer Logs yang berbeda (tampak pada gambar di bawah ini) akan menghasilkan potongan serat dan motif yang bervariasi

Veneer yang ada pada umumnya diambil dari bagian-bagian dari pohon yang masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda-beda.

Bagian-bagian tersebut dapat digolongkan dalam gambar seperti berikut dibawah ini :

image006

Tehnik yang umum dipakai dalam penyambungan Veneer dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Vertical Butt & Horizontal Bookleaf Match

image007

Random Match

image008

Book Match

image009

Slip Match

image010

Four-Way Center and Butt Match

image011

Veneer biasanya dipakai sebagai lapisan luar Plywood atau MDF (dekoratif / fancy plywood), elemen interior, furniture atau benda lainnya. Dengan menampilkan pola serat kayu yang indah Veneer mampu tampil lebih alami dibandingkan dengan bahan lain, dan yang lebih menarik adalah bahan Veneer dapat dipakai pada permukaan yang luas, lengkung, berkelok atau untuk sudut-sudut yang sulit.


Memahami Plywood Sebagai Bahan Alternatif

Apa sebenarnya yang disebut dengan plywood? Dalam bahasa Indonesia disebut kayu lapis dan dalam bahasa sehari-hari para tukang kayu awam menyebutnya tripleks, walaupun sebenarnya lebih dari 3 lapisan. Di instansi pendidikan lain menyebutnya sebagai multipleks yang berarti beberapa lapisan.

Plywood terbuat dari beberapa lembaran tipis, atau lapisan yang arah seratnya disusun saling melintang antara lembaran bawah dengan lembaran bagian atas secara bersamaan dengan lem khusus di bawah tekanan besar sehingga didapatkan ketebalan tertentu. Lembaran-lembaran tersebut biasanya di peroleh dari proses pengupasan kayu log secara rotary. Dari proses ini diperoleh lembaran yang lebar dan panjang pada ketebalan yang kecil (0.3mm - 3 mm).

Dari konstruksi yang digunakan untuk membuat plywood, maka bahan ini sangat tahan terhadap resiko pecah/retak, melengkung atau melintir yang tergantung pula pada ketebalannya. Dimulai dari standar ketebalan 3mm, 4mm, 6,9,12,15,18mm dan seterusnya.

Pada awalnya plywood diproduksi karena kebutuhan akan papan lebar sangat besar dan apabila menggunakan kayu solid sangat beresiko tinggi terhadap efek penyusutan kayu (melengkung, melintir dan pecah/retak). Namun demikian plywood juga memiliki keterbatasan dalam ukuran panjang dan lebar.

Kelebihan plywood adalah karena daya tahannya terhadap penyusutan kayu dan ukuran panjang lebar yang tidak mungkin didapatkan dari kayu solid pada posisi kualitas yang sama.
Tetapi bukan berarti plywood punya daya tahan yang sama kuatnya terhadap cuaca. material ini hanya direkomendasikan untuk perabot di dalam ruangan (indoor). Kelemahan paling besar pada plywood terdapat pada sisi tebalnya. Sisi tebal plywood merupakan bagian yang paling mudah menyerap air dan permukaannya sangat kasar. Untuk mendapatkan kehalusan yang baik harus ditambahkan penutup sisi tebal.

Tahapan Verifikasi Legalitas Kayu

TahapanVerifikasi Legalitas Kayu dilaksanakan sebagaimana bagan berikut :


Penelusuran Bahan Baku Verifikasi Legalitas Kayu di industri primer :

Penelurusan / konfirmasi hanya sampai 1 tahap ke belakang


Penelusuran Bahan Baku Verifikasi Legalitas Kayu
di industri lanjutan:


Penelurusan / konfirmasi hanya sampai 1 tahap ke belakang

ARTI PENTING LEGALITAS KAYU dan SVLK

Perubahan pola perdagangan dunia menuju pasar bebas semakin nyata. Penghapusan tariff barrier untuk produk impor telah dilakukan di berbagai negara. Akan tetapi, beberapa negara tujuan ekspor produk kayu menetapkan non-tariff barrier, seperti penetapan persyaratan teknis untuk suatu produk agar dapat diimpor.

Uni Eropa sebagai salah satu Negara tujuan ekspor utama produk-produk kayu Indonesia melalui Voluntary Partnership Agreement (VPA) dengan pemerintah Indonesia, mensyaratkan hanya produk kayu "legal" yang boleh diekspor ke Eropa.

Amerika Serikat, dengan penerapan amandemen Lacey Act, mensyaratkan adanya self declare dari importir yang menyatakan bahwa hanya "kayu legal" yang diimpor.

Selain itu, berbagai permintaan dari importir produk kayu yang mensyaratkan adanya sertifikat Sustainable Forest Management (SFM) untuk setiap produk kayu yang diimpor juga semakin meningkat. Hal-hal tersebut merupakan bukti semakin meningkatnya permintaan pasar akan produk kayu yang legal dan lestari.

Jaminan legalitas produk kayu dibuktikan dengan adanya sistem yang dibangun dalam pergerakan kayu mulai dari hutan sebagai sumber kayu, industri sebagai produsen produk kayu, hingga ke pemasaran hasil olahannya. Atas tuntutan tersebut, industri harus dapat memberikan jaminan kepada konsumen bahwa bahan baku kayu yang digunakan berasal dari sumber yang legal. Sertifikasi merupakan salah satu sarana untuk memberikan jaminan legalitas produk kayu sehingga produk tersebut dapat diterima pasar internasional.

Menanggapi kondisi tersebut, PT. SUCOFINDO sebagai salah satu lembaga sertifikasi di Indonesia telah mengembangkan jasa sertifikasi hutan dan produk hasil hutan. Jenis sertikasi yang ada yaitu Verification of Legal Origin (VLO), Verification of Legal Compliance (VLC), Pengelolaan Hutan Produksi Lestari/Sustainable Forest Management (PHPL/SFM) dan Lacak Balak/Chain of Custody (CoC).

Untuk Sertifikasi Pengelolaan Hutan Produksi Lestari/Sustainable Forest Management (PHPL/SFM) dan Lacak Balak/Chain of Custody (CoC), PT. SUCOFINDO telah diakreditasi oleh Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI). Selain itu PT. SUCOFINDO juga telah diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) sebagai Lembaga Verifikasi Legalitas Kayu (LVLK) untuk Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK).

STANDAR SVLK TERBARU .... APA YANG BERUBAH?


Melalui Permenhut Nomor: P. 68/Menhut-II/2011 pemerintah merevisi peraturan SVLK bagi unit manajemen hutan alam, hutan tanaman, hutan hak/rakyat, industri primer dan industri lanjutan. Salah satu okok perubahan yang diatur antara lain terkait dengan batas waktu pemberlakuan SVLK dimana terhadap IUPHHK-HA, IUPHHK-HT, IUPHHK-RE, pemegang hak pengelolaan atau IUIPHHK diwajibkan untuk memiliki S-PHPL atau S-LK selambat-lambatnya tahun 2012sedangkan untuk IUI dan TDI, termasuk industri rumah tangga/pengrajin dan pedagang ekspor diwajibkan untuk memiliki S-LK selambat-lambatnya 2 (dua) tahun terhitung sejak Peraturan ini diberlakukan.

Selain itu Permenhut ini juga mengatur penerbitan dokumen V-Legal sebagai pengganti dokumen endorsment, dimana bagi pemegang SLK maka V-Legal diterbitkan oleh LVLK sedangkan bagi yang belum memiliki SLK, V-Legal diterbitkan berdasarkan inspeksi per shipment.

Selain itu pemerintah juga merevisi Pedoman dan Standar Verifikasi Legalitas Kayu dengan diterbitkannya Perdirjen BUK Nomor. P.08/VI-BPPHH/2011 tanggal 30 Desember 2011. Banyak terjadi perubahan pada pedoman dan standar yang baru ini, mulai dari penambahan verifier mencakup K3 dan Ketenagakerjaan, perubahaan tata waktu sertifikasi, diakomodirnya eksportir non produsen dalam skema SVLK serta dari sisi kelembagaan adanya LIU (License Information Unit) sebagai pusat data untuk sertifikasi legalitas kayu.


Dari sisi ruang lingkup tambahan cakupan verifikasi mencakup IUIPHHK, IUI, Industri RT, Pengrajin dan pedagang ekspor. Untuk pengrajin dan pedagang diakomodir melalui skema group sertifikasi, sedangkan untuk pedagang ekspor diakomodir melalui ETPIK non produsen yang masih digagas implementasinya. Selain itu khusus untuk industri terdapat mekanisme konsultasi publik sebelum pelaksanaan audit meskipun pelaksanaannya dapat dilakukan selama ada permintaan dari pihak terkait.

Dari sisi publikasi, tata waktu audit menjadi lebih lama dari yang sebelumnya hanya publikasi 7 hari menjadi 14 hari dengan selang waktu pengajuan publikasi 10 hari di website Kemenhut sehinggo total waktu untuk publikasi menjadi 24 hari. Tata waktu untuk sertifikasi sebagaimana digambarkan pada skema berikut.

Dari sisi sertifikat, tidak lagi terdapat pengidentifikasian menggunakan warna pada sertifikat Legalitas Kayu yang diterbitkan. Sebagaimana sebelumnya diatur terdapat 5 warna yang membedakan sumber bahan baku yang digunakan.

Dari sisi pelaksanaan verifikasinya sendiri terdapat kewajiban untuk melakukan penelusuran atas bahan baku yang digunakan dengan ketentuan, ika sumber bahan baku belum bersertifikast LK/PHPL, dilakukan penelusuran satu langkah kebelakang dapat melalui surat dan/atau verifikasi langsung ke pemasoknya. Jika ada subkon/ kerjasama produksi maka perlu ditelusur bahwa subkon/ supplier beroperasi secara sah

Selain itu sanksi atas pemenuhan ketentuan bagi pemegang S-LK diatur lebih jelas, yaitu
S-LK dibekukan apabila : tidak bersedia dilakukan penilikan sesuai tata waktu yang ditetapkan dan atau terdapat temuan ketidaksesuaian sebagai hasil audit tiba-tiba. S-LK dicabut apabila : tetap tidak bersedia dilakukan penilikan setelah 3 (tiga) bulan sejak penetapan pembekuan sertifikat, Secara hukum terbukti membeli dan/atau menerima dan/atau menyimpan dan/atau mengolah dan/atau menjual kayu illegal, Pemegang Izin kehilangan haknya untuk menjalankan usahanya atau izin usaha dicabut.

door material



Sample Image Doors
Pintu
Pintu

In addition to producing Plywood and Blockboard, Injakayu also produce materials door.


Japan Injakayu
 

Online Support

Marina Paramita